1. Arti Sosiologi Pendidikan
Apakah
sosiologi pendidikan itu ?
Menurut
H.P. Fairchild dalam bukunya “Dicitionary of
Sociology” dikatakan bahwa : Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang
diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Sosiologi
pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki daerah yang saling
dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan.
Sosiologi
sebagai ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandangan,
metode, dan susunan pengetahuan. Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku
manusia dalam kelompok. Sudut pandangnya ialah memandang hakikat masyarakat
kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuan dalam
sosiologi terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan
kelompok sosial, kebudayaannya, dan perkembangan pribadi.
Apakah
lapangan penelitian sosiologi itu ? Pusat penelidikan sosiologi itu ialah
tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dalam insitusi sosial. Tingkah
laku sosial itu membangun kepribadian manusia, yaitu melalui peranan-peranan
yang dilakukannya dalam kehidupan kelompoknya. Peranan itu menghasilkan
kebudayaan, yang seringkali disebut juga warisan sosial manusia.
Sosiologi
dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1) Sosiologi umum, tugasnya menyelidiki gejala
sosio-kultural secara umum.
2) Sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari
sosiologi umum tugasnya menyelidiki
suatu aspek kehidupan sosio cultural
secara mendalam. Misalnya :
-
Sosiologi masyarakat desa.
-
Sosiologi masyarakat kota.
-
Sosiologi agama.
-
Sosiologi hukum.
-
Sosiologi pendidikan dan sebagainya.
Jadi
sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Menurut F.G.
Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki
struktur dan dinamika proses pendidikan. Yang termasuk dalam struktur ini ialah
teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaann, struktur kepribadian dan
kesemuanya itu dengan tata sosial masyarakat.
Sedangkan
yang dimaksud dengan dinamika, ialah proses sosial dan cultural, proses
perkembangan kepribadian, dan hubungan semuanya itu dengan proses pendidikan.
2. Konsepsi Dan Posisi Sosiologi
Pendidikan
Menurut
perkembangan sejarah, manusia itu tidak pernah berhenti dari kesibukannya, baik
dalam kesibukan menghadapi dunia luar atau lingkungan sekitar maupun diri
manusia itu sendiri.
Kesibukan-kesibukan
pekerjaan, dan sebagainya mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain.
Manusia,
dengan segala tingkah lakunya didalam menghadapi lingkungan sekitarnya
menimbulkan usaha-usaha untuk mengetahui dan akhirnya memanipulasi lingkungan
sekitar manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Misalnya,
tingkah laku manusia dalam memanipulasi tanah dengan berbagai ramuan dapat
membuat batu merah, dan dari batu merah, biji logam besi dapat dibuat beraneka
ragam alat-alat perlengkapan, dari mekanik burung terbang dapat dibuat pesawat
jet supersonok. Dari mekanik ikan dapat dibangun kapal selam, dan sebaliknya.
Dari sini kelihatanlah bahwa manusia ingin tahu kepada lingkungan sekitarnya,
ingin menguasainya dan akhirnya ingin mempergunakannya.
3. Definisi Sosiologi Pendidikan
Ditinjau
dari segi etimologinya istilah sosiologi pendidikan terdiri atas dua perkataan
yaitu sosiologi dan pendidikan. Maka sepintas saja telah jelas bahwa didalam
sosiologi pendidikan itu yang menjadi masalah sentralnya ialah aspek-aspek
sosiologi di dalam pendidikan. Karena situasi pendidikan adalah situasi
hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pergaulan sosial antara
pendidikan dengan anak didik, pendidik dengan pendidik.
E.
George Payne, yang bolehlah disebut bapak daripada sosiologi pendidikan seperti
halnya A. Comte sebagai bapak daripada sosiologi. Payne memberikan konsepsi
atau pengertian bahwa “By educational sosiologi we mean the science which
describes and explains the institutions, social groups, and sosial processes,
that is the social relationships in which or through which the individual gains
and organizes experiences”.
Disini
Payne menekankan, bahwa didalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial,
proses sosial, terdapatlah apa yang dinamakan sosial relationship,
hubungan-hubungan sosial ataupun secara tehnis disebut interaksi sosial, di
mana di dalam dan dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan
mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Ini yang merupakan aspek-aspek atau
prinsip-prinsip sosiologinya.
Charless
A. Ellwood : Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/
menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan anatara semua pokok-pokok
masalah antara proses pendidikan dan proses sosial.
Dr.
Ellwood : Sosiologi Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
proses belajar dan mempelajari antara orang yang satu dengan orang yang lain.
E.B.
Reuter : Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi
dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia,
dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan
kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi prinsipnya antara individu
dengan lembaga-lembaga sosial itu selalu saling pengaruh-mempengaruhi (process
of social interactions).
Dodson
berpendapat bahwa sosiologi pendidikan itu mempersoalkan pertemuan dari
percampuran daripada lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas, dimana
dalam dan dengan begitu maka terbentuklah tingkah laku, dan sekolah dianggap
sebagian dari total cultural milieu, sedang sosiologi pendidikan
memperbincangkan dan berusaha menemukan bagaimana memanipulasi proses
pendidikan untuk mengembangkan kepribadian.
Sosiologi
pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan (dari ilmu jiwa pendidikan)
yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa
sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio kulturil yang terdapat
di dalam masyarakat dan negaranya.
Atau
secara singkat sosiologi pendidikan ialah tinjauan sosiologisnya terhadap
proses pendidikan dan pengajaran.
Tujuan
sosiologi pendidikan di Indonesia ialah:
1.
Berusaha memahami peranan sosiologi
daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah
ditinjau dari segi kegiatan intelektual
2.
Untuk memahami seberapa jauhkah guru
dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian
anak.
3.
Untuk mengetahui pembinaan ideology
Pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di Lingkungan pendidikan dan
pengajaran.
4.
Untuk mengadakan integrasi kurikulum
pendidikan dengan masyrakat sekitarnya agar supaya pendidikan mempunyai
kegunaan praktis di dalam masyarakat, dan negara seluruhnya.
5.
Untuk menyelidiki faktor-faktor kekuatan
masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian
anak.
6.
Memberi sumbangan yang positif terhadap
perkeembangan ilmu pendidikan.
7.
Member pegangan terhadap penggunaan
prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak
didik.
Sosiologi
pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi di
antara individu-individu dan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau dengan
perkataan lain secara khusus sosiologi pendidikan itu membicarakan, melukiskan
dan menerangkan institusi-institusi, kelompok-kelompok, sosial, dan proses
sosial, hubungan atau relasi sosial di mana didalam dan dengannya manusia
memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya.
Hubungan
antara sosiologi pendidikan dan psikologi pendidikan ialah bahwa keduanya
mempunyai masalah sentral yang sama, ialah masalah-masalah pertumbuhan dan
perkembangan kepribadian.
Psikologi
pendidikan mempersoalkan teknik kebiasaan-kebiasaan baru (tingkah laku baru)
kepada anak-anak, sedangkan pada sosiologi pendidikan tertarik kepada
implikasinya, mengingat bahwa sekolah dengan segala kegiatannya, termasuk
kurikulum dan method mengajarnya, adalah merupakan lembaga sosial dan merupakan
bagian dari lembaga sosial yang lebih luas. Misalnya masyarakat.
Perbedaan antara sosiologi
pendidikan dan sosiologi pendidikan;
Psikologi pendidikan
dengan mempergunakan hukum-hukum psikologi berusaha menentukan syarat-syarat
optimum untuk belajar dan bagaimana untuk merealisirnya, sedangkan pada
sosiologi pendidikan tidak demikian halnya, tetapi betapakah pengaruh belajar
kepada kehidupan kelompok, dan pengaruh kelompok kecil terhadap yang lebih luas
lagi, ialah terhadap masyarakat. Sosiologi pewndidikan sebagai sosiologi
pendidikan, berusaha membahas bagaimanakah pendidikan sebagai proses sosial
dengan kondisi-kondisi yang optimum dapat mengurangi kekurangan-kekurangan di
dalam masyarakat untuk mencapai tata masyarakat-masyarakat yang lebih baik.
4.
Latar
Belakang Timbulnya Sosiologi Pendidikan
Kenyataan menunjukkan
bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan
memperlihatkan gejala desintegratif.
Perubahan sosial yang
cepat itu meliputi berbagai bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua
institusi sosial, seperti : industri, agama, perekonomian, pemerintahan,
keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam
masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan.
Sosiologi pendidikan
dikuliahkan pertama kali oleh Henry Suzzalo tahun1910 di Teacher College,
Universitas Columbia. Tetapi baru pada tahun 1917 terbit textbook sosiologi
pendidikan yang pertama kali karya Walter R. Smith dengan judul Introduction of
Educational Sociologi. Pada tahun 1916 di Universitas New York dan Columbia
didirikan jurusan Sosiologi Pendidikan.
Baru pada tahun 1967, Sosiologi
pendidikan diberikan pertama kali di IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Didaktik
Kurikulum.
Dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Pada abad ke-20, sosiologi mempunyai
peranan penting dalam pemikiran pendidikan. Sebagai akibatnya timbullah
sosiologi pendidikan.
2.
a. Dalam buku “Dicitionari of sociology”
disebutkan bahwa: Sosiologi Pendidikan
adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan
yang fundamental.
b.
Menurut F.G. Robinns Sosiologi Pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya
menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan.
3.
Latar belakang timbulnya sosiologi
pendidikan dapat diterangkan sebagai berikut : masyarakat mengalami perubahan
sosial yang cepat.
Perubahan
sosial itu menimbulkan cuctural lag. Cultural lag ini merupakan sumber
masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah sosial itu dialami
oleh dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya.
Kemudian ahli-ahli sosiologi menyumbangkan pemikiran-pemikirannya untuk
memecahkan masalah itu, maka lahirlah sosiologi pendidikan.
4.
Salah satu fungsi Sosiologi Pendidikan
di Indonesia, ialah memantapkan pancasila sebagai universals (corevalues) yang
menjadi dasar integrasi nasional.
5.
Educational
Sosiology dan Sociologi Of Education
Pada mulanya memang ada
kecenderungan pada jurusan Pendidikan diberbagai perguruan tinggi menggunakan
istilah “Educational Sosiology” sedangkan belakangan ini lebih suka menggunakan
istilah “Sociologi of Education”. Disarankah oleh Prof. W. Taylor untuk tetap
menggunakan kedua istilah tersebut, tapi dengan pengertian yang sedikit berbeda
di antara satu dengan yang lainnya. Menurut Taylor, educational Sociology
tekanannya terletak pada pertanyaan-pertanyaan kependidikan dan sosial.
Sedangkan “Sociology of Education”, tekanannya pada permasalahan-permasalahan
sosiologis. Pembedanya mirip dengan apa yang dinyatakan oleh R.J. Stalcup di
dalam bukunya “Sociology and Education” di mana ia juga menggunakan istilah
“The Social Foundation of Education”. Definisi dari Stalcup mengenai ketiga
istilah dimaksud sebagai berikut ini:
a.
Educational Sociology : merupakan
aplikasi prinsip-prinsip umum dan penemuan-penemuan sosiologi bagi
pengadministrasian dan atau proses pendidikan. Pendekatan ini berupaya untuk
menerapkan prinsip-prinsip sosiologi pada lembaga pendidikan sebagai suatu unit
sosial tersendiri.
b.
Sociology of Education. Merupakan suatu
analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga
pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.
c.
Social Foundation of Education :
merupakan suatu bidang telaahan yang lazimnya mencakup sejarah, filsafat,
sosiologi pendidikan, dan pendidikan komparasi. Jelas, bidang ini lebih luas
baik dari”Sociology of Education” maupun”Educational Sociology”.
Keseluruhan
yang ditelaah oleh sosiologi pendidikan, sesungguhnya satu, di mana ahli
sosiologi dan ahli pendidikan bisa bekerjasama secara ramah, dan itu sudah
mereka lakukan. Tidak ada gunanya lagi memperbincangkan, apakah sosiologi
pendidikan merupakan cabang sosiologi ataukah cabang ilmu pendidikan, yang
terlebih utama ialah menetapkan mana-mana pertanyaan atau permasalahan yang
penting untuk dipertanyakan dan dijawab secara ilmiah, dan menentukan
siapa-siapa (ahli sosiologi ataukah ahli pendidikan) yang berposisi terbaik untuk
meneliti dan menjawabnya.
6.
Kajian
Sosiologi Of Education
Semakin
penting dan fundamentalnya proses pendidikan dan sistem-sistem sosial yang
terkait dengannya, tentunya sangat penting dan memerlukan perhatian ahli-ahli
sosiologi. Sungguh meragukan bisanya dicapai kemajuan-kemajuan dalam
pengelolaan pendidikan, apabila para administrator pendidikan sekedar memakai
informasi-informasi dan prinsip-prinsip sosiologis, sebelum kita bisa memahami
cirri-ciri hubungan antar manusia di dalam sistem persekolahan, beserta
bagaimana para ahli sosiologi telah memalingkan perhatiannya terhadap hubungan
antar manusia dalam keluarga, industry, agama, polotik, komuniti, dan sistem-sistem
interaksi lainnya. Dunia dan sistem pendidikan,tentunya juga perlu dikaji untuk
menentukan pola-pola interaksi didalamnya.
Perlu
diketahui, kerangka umum Sosiologi Pendidikan (sociology of Education),
sebenarnya bukanlah barang baru. Beberapa tahun yang lalu, Angell telah
memberikan suatu definisi dan berguna mengenai bidang ilmu ini. Dia memberikan
suatu posisi, bahwa ahli Educational Sociology harus benar-benar seorang ahli
sosiologi yang menspesialisasikan pikiran dan penelitian-penelitiannya pada
proses-proses pendidikan.
Dari
ikhtisar gambaran kontribusi dari apa yang disebut Educational Sociology, dan
apa yang disebut dengan Sociology of Education, kiranya Sociology of
Educationlah yang lebih cocok digunakan. Alasannya :
1) Sosiologi pendidikan tidaklah mencakup semua
sosiologi, yang dianggap penting dan perlu dikenali oleh para calon guru.
Artinya, semua bahan sajian sosiologi yang diperuntukkan bagi calon-calon guru,
termasuk juga yang diberi nama Educational Sosiology, tidaklah otomatis bisa
disebut Sosiologi Pendidikan.
2)
Sosiologi pendidikan, bukanlah suatu teknologi pendidikan.
3)
Bila dinyatakan dalam formulasi yang positif, sosiologi pendidikan merupakan
analisis ilmiah tentang proses-proses sosial dan pola-pola sosial yang
berlangsung dalam sistem pendidikan.
Sekarang
ini, sesungguhnya banyak tersedia bahan-bahan yang daripadanya bisa
dikembangkan sejumlah teori mengenai hubungan sistem pendidikan (khususnya
sekolah) dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat. Adapun yang tercakup dalam
kelompok permasalahan ini, ialah :
1.
Hubungan antara sistem pendidikan dengan
proses sosial dan perubahan kebudayaan
2.
Fungsi sistem pendidikan formal di dalam
proses pembaharuan sosial, misalnya di dalam hubungan antara manusia yang
berkenaan dengan ras, budaya dan kelompok-kelompok lainnya.
3.
Fungsi sistem pendidikan di dalam proses
pengendalian sosial.
4.
Hubungan antara sistem pendidikan dalam
pendapat umum (public opinion)
5.
Hubungan antara pendidikan dengan kelas
sosial atau sistem status, dan
6.
Keberartian pendidikan sebagai suatu
symbol terpercaya di dalam kebudayaan demokratis.
KESIMPULAN
Sosiologi
pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki daerah yang saling
dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan.
Latar
belakang timbulnya sosiologi pendidikan dapat diterangkan sebagai berikut :
masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat.
Perubahan
sosial itu menimbulkan cuctural lag. Cultural lag ini merupakan sumber
masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah sosial itu dialami
oleh dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya.
Kemudian ahli-ahli sosiologi menyumbangkan pemikiran-pemikirannya untuk
memecahkan masalah itu, maka lahirlah sosiologi pendidikan.
Sosiologi
pendidikan tidaklah mencakup semua sosiologi, yang dianggap penting dan perlu
dikenali oleh para calon guru. Artinya, semua bahan sajian sosiologi yang
diperuntukkan bagi calon-calon guru, termasuk juga yang diberi nama Educational
Sosiology, tidaklah otomatis bisa disebut Sosiologi Pendidikan
DAFTAR
PUSTAKA
Abu
Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Cet.-2,
Rineka Cipta:Jakarta, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar