Rabu, 18 Desember 2013

SOSIOLOGI PENDIDIKAN


1.      Arti Sosiologi Pendidikan
Apakah sosiologi pendidikan itu ?
Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya “Dicitionary of  Sociology” dikatakan bahwa : Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki daerah yang saling dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandangan, metode, dan susunan pengetahuan. Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangnya ialah memandang hakikat masyarakat kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaannya, dan perkembangan pribadi.
Apakah lapangan penelitian sosiologi itu ? Pusat penelidikan sosiologi itu ialah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dalam insitusi sosial. Tingkah laku sosial itu membangun kepribadian manusia, yaitu melalui peranan-peranan yang dilakukannya dalam kehidupan kelompoknya. Peranan itu menghasilkan kebudayaan, yang seringkali disebut juga warisan sosial manusia.
Sosiologi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1)  Sosiologi umum, tugasnya menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum.
2)  Sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari sosiologi umum tugasnya menyelidiki
      suatu aspek kehidupan sosio cultural secara mendalam. Misalnya :
-          Sosiologi masyarakat desa.
-          Sosiologi masyarakat kota.
-          Sosiologi agama.
-          Sosiologi hukum.
-          Sosiologi pendidikan dan sebagainya.
Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Yang termasuk dalam struktur ini ialah teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaann, struktur kepribadian dan kesemuanya itu dengan tata sosial masyarakat.
Sedangkan yang dimaksud dengan dinamika, ialah proses sosial dan cultural, proses perkembangan kepribadian, dan hubungan semuanya itu dengan proses pendidikan.
2.      Konsepsi Dan Posisi Sosiologi Pendidikan
Menurut perkembangan sejarah, manusia itu tidak pernah berhenti dari kesibukannya, baik dalam kesibukan menghadapi dunia luar atau lingkungan sekitar maupun diri manusia itu sendiri.
Kesibukan-kesibukan pekerjaan, dan sebagainya mempunyai hubungan timbal balik satu sama lain.
Manusia, dengan segala tingkah lakunya didalam menghadapi lingkungan sekitarnya menimbulkan usaha-usaha untuk mengetahui dan akhirnya memanipulasi lingkungan sekitar manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Misalnya, tingkah laku manusia dalam memanipulasi tanah dengan berbagai ramuan dapat membuat batu merah, dan dari batu merah, biji logam besi dapat dibuat beraneka ragam alat-alat perlengkapan, dari mekanik burung terbang dapat dibuat pesawat jet supersonok. Dari mekanik ikan dapat dibangun kapal selam, dan sebaliknya. Dari sini kelihatanlah bahwa manusia ingin tahu kepada lingkungan sekitarnya, ingin menguasainya dan akhirnya ingin mempergunakannya.

3.      Definisi Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi etimologinya istilah sosiologi pendidikan terdiri atas dua perkataan yaitu sosiologi dan pendidikan. Maka sepintas saja telah jelas bahwa didalam sosiologi pendidikan itu yang menjadi masalah sentralnya ialah aspek-aspek sosiologi di dalam pendidikan. Karena situasi pendidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pergaulan sosial antara pendidikan dengan anak didik, pendidik dengan pendidik.
E. George Payne, yang bolehlah disebut bapak daripada sosiologi pendidikan seperti halnya A. Comte sebagai bapak daripada sosiologi. Payne memberikan konsepsi atau pengertian bahwa “By educational sosiologi we mean the science which describes and explains the institutions, social groups, and sosial processes, that is the social relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”.
Disini Payne menekankan, bahwa didalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial, proses sosial, terdapatlah apa yang dinamakan sosial relationship, hubungan-hubungan sosial ataupun secara tehnis disebut interaksi sosial, di mana di dalam dan dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Ini yang merupakan aspek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologinya.
Charless A. Ellwood : Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/ menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan anatara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial.
Dr. Ellwood : Sosiologi Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses belajar dan mempelajari antara orang yang satu dengan orang yang lain.
E.B. Reuter : Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi prinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial itu selalu saling pengaruh-mempengaruhi (process of social interactions).
Dodson berpendapat bahwa sosiologi pendidikan itu mempersoalkan pertemuan dari percampuran daripada lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas, dimana dalam dan dengan begitu maka terbentuklah tingkah laku, dan sekolah dianggap sebagian dari total cultural milieu, sedang sosiologi pendidikan memperbincangkan dan berusaha menemukan bagaimana memanipulasi proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian.
Sosiologi pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan (dari ilmu jiwa pendidikan) yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio kulturil yang terdapat di dalam masyarakat dan negaranya.
Atau secara singkat sosiologi pendidikan ialah tinjauan sosiologisnya terhadap proses pendidikan dan pengajaran.
Tujuan sosiologi pendidikan di Indonesia ialah:
1.      Berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual
2.      Untuk memahami seberapa jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian anak.
3.      Untuk mengetahui pembinaan ideology Pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di Lingkungan pendidikan dan pengajaran.
4.      Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyrakat sekitarnya agar supaya pendidikan mempunyai kegunaan praktis di dalam masyarakat, dan negara seluruhnya.
5.      Untuk menyelidiki faktor-faktor kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
6.      Memberi sumbangan yang positif terhadap perkeembangan ilmu pendidikan.
7.      Member pegangan terhadap penggunaan prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.
Sosiologi pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi di antara individu-individu dan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau dengan perkataan lain secara khusus sosiologi pendidikan itu membicarakan, melukiskan dan menerangkan institusi-institusi, kelompok-kelompok, sosial, dan proses sosial, hubungan atau relasi sosial di mana didalam dan dengannya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya.
Hubungan antara sosiologi pendidikan dan psikologi pendidikan ialah bahwa keduanya mempunyai masalah sentral yang sama, ialah masalah-masalah pertumbuhan dan perkembangan kepribadian.
Psikologi pendidikan mempersoalkan teknik kebiasaan-kebiasaan baru (tingkah laku baru) kepada anak-anak, sedangkan pada sosiologi pendidikan tertarik kepada implikasinya, mengingat bahwa sekolah dengan segala kegiatannya, termasuk kurikulum dan method mengajarnya, adalah merupakan lembaga sosial dan merupakan bagian dari lembaga sosial yang lebih luas. Misalnya masyarakat.
Perbedaan antara sosiologi pendidikan dan sosiologi pendidikan;
Psikologi pendidikan dengan mempergunakan hukum-hukum psikologi berusaha menentukan syarat-syarat optimum untuk belajar dan bagaimana untuk merealisirnya, sedangkan pada sosiologi pendidikan tidak demikian halnya, tetapi betapakah pengaruh belajar kepada kehidupan kelompok, dan pengaruh kelompok kecil terhadap yang lebih luas lagi, ialah terhadap masyarakat. Sosiologi pewndidikan sebagai sosiologi pendidikan, berusaha membahas bagaimanakah pendidikan sebagai proses sosial dengan kondisi-kondisi yang optimum dapat mengurangi kekurangan-kekurangan di dalam masyarakat untuk mencapai tata masyarakat-masyarakat yang lebih baik.
4.      Latar Belakang Timbulnya Sosiologi Pendidikan
Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif.
Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagai bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti : industri, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan.
Sosiologi pendidikan dikuliahkan pertama kali oleh Henry Suzzalo tahun1910 di Teacher College, Universitas Columbia. Tetapi baru pada tahun 1917 terbit textbook sosiologi pendidikan yang pertama kali karya Walter R. Smith dengan judul Introduction of Educational Sociologi. Pada tahun 1916 di Universitas New York dan Columbia didirikan jurusan Sosiologi Pendidikan.
Baru pada tahun 1967, Sosiologi pendidikan diberikan pertama kali di IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Didaktik Kurikulum.
Dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pada abad ke-20, sosiologi mempunyai peranan penting dalam pemikiran pendidikan. Sebagai akibatnya timbullah sosiologi pendidikan.
2.      a. Dalam buku “Dicitionari of sociology” disebutkan bahwa: Sosiologi  Pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
b. Menurut F.G. Robinns Sosiologi Pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan.
3.      Latar belakang timbulnya sosiologi pendidikan dapat diterangkan sebagai berikut : masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat.
Perubahan sosial itu menimbulkan cuctural lag. Cultural lag ini merupakan sumber masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah sosial itu dialami oleh dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Kemudian ahli-ahli sosiologi menyumbangkan pemikiran-pemikirannya untuk memecahkan masalah itu, maka lahirlah sosiologi pendidikan.
4.      Salah satu fungsi Sosiologi Pendidikan di Indonesia, ialah memantapkan pancasila sebagai universals (corevalues) yang menjadi dasar integrasi nasional.
5.      Educational Sosiology dan Sociologi Of Education
Pada mulanya memang ada kecenderungan pada jurusan Pendidikan diberbagai perguruan tinggi menggunakan istilah “Educational Sosiology” sedangkan belakangan ini lebih suka menggunakan istilah “Sociologi of Education”. Disarankah oleh Prof. W. Taylor untuk tetap menggunakan kedua istilah tersebut, tapi dengan pengertian yang sedikit berbeda di antara satu dengan yang lainnya. Menurut Taylor, educational Sociology tekanannya terletak pada pertanyaan-pertanyaan kependidikan dan sosial. Sedangkan “Sociology of Education”, tekanannya pada permasalahan-permasalahan sosiologis. Pembedanya mirip dengan apa yang dinyatakan oleh R.J. Stalcup di dalam bukunya “Sociology and Education” di mana ia juga menggunakan istilah “The Social Foundation of Education”. Definisi dari Stalcup mengenai ketiga istilah dimaksud sebagai berikut ini:
a.       Educational Sociology : merupakan aplikasi prinsip-prinsip umum dan penemuan-penemuan sosiologi bagi pengadministrasian dan atau proses pendidikan. Pendekatan ini berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip sosiologi pada lembaga pendidikan sebagai suatu unit sosial tersendiri.
b.      Sociology of Education. Merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.
c.       Social Foundation of Education : merupakan suatu bidang telaahan yang lazimnya mencakup sejarah, filsafat, sosiologi pendidikan, dan pendidikan komparasi. Jelas, bidang ini lebih luas baik dari”Sociology of Education” maupun”Educational Sociology”.
Keseluruhan yang ditelaah oleh sosiologi pendidikan, sesungguhnya satu, di mana ahli sosiologi dan ahli pendidikan bisa bekerjasama secara ramah, dan itu sudah mereka lakukan. Tidak ada gunanya lagi memperbincangkan, apakah sosiologi pendidikan merupakan cabang sosiologi ataukah cabang ilmu pendidikan, yang terlebih utama ialah menetapkan mana-mana pertanyaan atau permasalahan yang penting untuk dipertanyakan dan dijawab secara ilmiah, dan menentukan siapa-siapa (ahli sosiologi ataukah ahli pendidikan) yang berposisi terbaik untuk meneliti dan menjawabnya.
6.      Kajian Sosiologi Of Education
Semakin penting dan fundamentalnya proses pendidikan dan sistem-sistem sosial yang terkait dengannya, tentunya sangat penting dan memerlukan perhatian ahli-ahli sosiologi. Sungguh meragukan bisanya dicapai kemajuan-kemajuan dalam pengelolaan pendidikan, apabila para administrator pendidikan sekedar memakai informasi-informasi dan prinsip-prinsip sosiologis, sebelum kita bisa memahami cirri-ciri hubungan antar manusia di dalam sistem persekolahan, beserta bagaimana para ahli sosiologi telah memalingkan perhatiannya terhadap hubungan antar manusia dalam keluarga, industry, agama, polotik, komuniti, dan sistem-sistem interaksi lainnya. Dunia dan sistem pendidikan,tentunya juga perlu dikaji untuk menentukan pola-pola interaksi didalamnya.
Perlu diketahui, kerangka umum Sosiologi Pendidikan (sociology of Education), sebenarnya bukanlah barang baru. Beberapa tahun yang lalu, Angell telah memberikan suatu definisi dan berguna mengenai bidang ilmu ini. Dia memberikan suatu posisi, bahwa ahli Educational Sociology harus benar-benar seorang ahli sosiologi yang menspesialisasikan pikiran dan penelitian-penelitiannya pada proses-proses pendidikan.
Dari ikhtisar gambaran kontribusi dari apa yang disebut Educational Sociology, dan apa yang disebut dengan Sociology of Education, kiranya Sociology of Educationlah yang lebih cocok digunakan. Alasannya :
1)  Sosiologi pendidikan tidaklah mencakup semua sosiologi, yang dianggap penting dan perlu dikenali oleh para calon guru. Artinya, semua bahan sajian sosiologi yang diperuntukkan bagi calon-calon guru, termasuk juga yang diberi nama Educational Sosiology, tidaklah otomatis bisa disebut Sosiologi Pendidikan.
2) Sosiologi pendidikan, bukanlah suatu teknologi pendidikan.
3) Bila dinyatakan dalam formulasi yang positif, sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses-proses sosial dan pola-pola sosial yang berlangsung dalam sistem pendidikan.
Sekarang ini, sesungguhnya banyak tersedia bahan-bahan yang daripadanya bisa dikembangkan sejumlah teori mengenai hubungan sistem pendidikan (khususnya sekolah) dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat. Adapun yang tercakup dalam kelompok permasalahan ini, ialah :
1.      Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses sosial dan perubahan kebudayaan
2.      Fungsi sistem pendidikan formal di dalam proses pembaharuan sosial, misalnya di dalam hubungan antara manusia yang berkenaan dengan ras, budaya dan kelompok-kelompok lainnya.
3.      Fungsi sistem pendidikan di dalam proses pengendalian sosial.
4.      Hubungan antara sistem pendidikan dalam pendapat umum (public opinion)
5.      Hubungan antara pendidikan dengan kelas sosial atau sistem status, dan
6.      Keberartian pendidikan sebagai suatu symbol terpercaya di dalam kebudayaan demokratis.





KESIMPULAN

Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki daerah yang saling dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan.
Latar belakang timbulnya sosiologi pendidikan dapat diterangkan sebagai berikut : masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat.
Perubahan sosial itu menimbulkan cuctural lag. Cultural lag ini merupakan sumber masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah sosial itu dialami oleh dunia pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Kemudian ahli-ahli sosiologi menyumbangkan pemikiran-pemikirannya untuk memecahkan masalah itu, maka lahirlah sosiologi pendidikan.
Sosiologi pendidikan tidaklah mencakup semua sosiologi, yang dianggap penting dan perlu dikenali oleh para calon guru. Artinya, semua bahan sajian sosiologi yang diperuntukkan bagi calon-calon guru, termasuk juga yang diberi nama Educational Sosiology, tidaklah otomatis bisa disebut Sosiologi Pendidikan



















DAFTAR PUSTAKA
           
            Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Cet.-2, Rineka Cipta:Jakarta, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar