Rabu, 18 Desember 2013

MENGHARGAI PROSES BUKAN HASIL


Menghargai Proses Bukan Hasil
Hargailah proses dan usaha, bagaimanapun hasilnya, untuk dapat meraih keberhasilan yang hakiki. Karena orang yang pandai bersyukur adalah orang yang pandai berterimakasih, dan orang yang pandai berterimakasih adalah orang yang pandai menghargai dan orang tidak akan dapat menghargai apapun bila ia tidak mampu memahami, menyadari, dan menghargai proses serta usaha.
            Karakter utama orang shaleh adalah menggunakan akal pikiran untuk memahami proses segala ciptaan Allah di semesta alam ( Ulul Albab), sehingga segala ucapan, sikap dan komentarnya selalu positif, menyejukkan, memotivasi, membersitkan inspirasi, dan penuh kearifan. Maka refleksi spontan imani Ulul albab berupa komentar “Rabbana ma khalaqta hadza bathilan” ( Ya Tuhan kami, tidaklah apapun yang Engkau ciptakan ini sia-sia, Maha Suci Engkau..QS. Ali Imran : 191) pun adalah bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap proses dan sumber kebaikan, apapun hasil takdir-Nya.
            Satu model sosok wanita yang pandai menghargai pencapaian suami sebagai bagian dari manajemen keberhasilan, bagaimanapun kondisinya saat itu, adalah Ummul Mukminin Khadijah. Disaat-saat rasulullah merasa sangat cemas, kesepian, ketakutan, dan merasa ditinggalkan, Khadijah justru mengungkit sisi-sisi kebaikan social dan pencapaian moral Nabi saw yang begitu tinggi sehingga mampu membangkitkan kembali motivasi Nabi saw.
            Demikian pula model suami yang pandai menghargai istri adalah Rasulullah saw di mana beliau tidak pernah mencela makanan maupun masakan sebagai penghargaan terhadap proses usaha dan sumbernya yang Maha Pemberi.
            Beliau juga tidak mencela kondisi fisik istrinya, Aisyah, yang tidak langsing lagi sebagai penghargaan beliau terhadap usaha dan pengorbanan aisyah untuk tetap setia menghibur dan mendampingi nabi saw, sehingga beliau cukup menyiratkan pentingnya pemeliharaan tubuh melalui olahraga lari bersama Aisyah di suatu hari.
            Di saat para sahabat merasa gagal mempertahankan kualitas iman dan spiritual, Nabi saw memberikan penghargaan tethadap adanya kesadaran untuk merawat spiritualitas. Beliau lantas memberikan motivasi bahwa kondisi keimanan seseorang memang fluktuatif sehingga dapat naik dan dapat turun, naiknya dengan ketaatan dan turunnya dengan ketidakpatuhan.
            Namun sebaliknya di saat para sahabat merasa terlalu yakin dengan pencapaian dan prestasi amalnya, beliau ingatkan bahwa keberhasilan pencapaian surge tidak tditentukan oleh amal, melainkan murni karena rahmat Allah semata termasuk nasib beliau. Hal ini dimaksudkan Nabi SAW agar para sahabat tidak berhenti beramal sehingga Allah meridhai dan merahmati mereka.
            Kkata-kata bijak dan prinsip-prinsip kearifan yang menumbuhkan motivasi dan memicu inspirasi sangat diperlukan dalam seni manajemen keberhasilan dan kegagalan bagi diri dan orang lain. Kung-fu-tze pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukan jika ia menjadi kaesar Cina. Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Aku akan mendidik rakyatku dengan kata-kata yang penuh inspirasi, semoga dengan menggunakan kata-kata itu mereka akan menjadi generasi bangsa yang gagah perkasa”.
            Keberhasilan memang perlu disongsong, dibangun dan dijaga sebagaimana kegagalan perlu diantisipasi, dihindari dan dilawan. Don Gabor dalam Big Things Happen (1997) memberikan 7 daftar pemeriksaan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun sukses yaitu :
1.      Tetap berusaha dan bekerja untuk membuat kemampuan anda lebih menonjol dari sebelumnya.
2.      Gunakan bakat anda dalam banyak cara sedapat mungkin.
3.      Beri diri anda kesan dan citra positif untuk mencapai tujuan.
4.      Cari manfaat dan hikmah dari keberhasilan anda.
5.      Periksalah arsip rencana dan program yang belum diselesaikan atau impian yang belum kesampaian.
6.      Masukkan sebanyak mungkin pengetahuan dari keberhasilan dan kegagalan anda sebisa anda.
7.      Dapatkan orang-orang yang bisa anda ajak berbagi pengalaman dan pengetahuan anda.
Di atas semua itu, ingatlah bahwa orang tidak akan dapat menhargai setiap pencapaian, prestasi dan hasil diri sendiri maupun orang lain manakala ia tidak menyadari dan menghargai setiap proses dan usaha, seraya mengingat Allah sebagai sumber segala karunia. Wallahu A’lam..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar