BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konversi Agama.
Konversi
agama dapat di artikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Untuk memberi
gambaran yang telah mengena tentang maksud kata-kata tersebut perlu etimologis.
dengan pengertian berdasarkan asal katayang jelas.
Ditemukan
beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain : Max Heirich
mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau
sekelompok orang masuk atau pindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku
yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya. Menurut pendapat Walter Houston
Clark dalam bukunya, mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu macam
pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung suatu perubahan arah.
B.
Pengertian
Konversi agama
Konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan
untuk proses yang menjurus pada penerimaan suatu sikap keagamaan; proses itu bisa
terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.
Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal kata lain “Conversio”
Yang berarti:tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya, kata tersebut
dipakai dalam kata Inggris Conversion yang
mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke
agama lain (change from one state, or
from one religion, to another).
Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan
bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik
pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama (menjadi panderi). Max
Heirich mengatakan bahwa konversi agamaadalah suatu tindakan di mana seseorang
atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau
perilaku berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
C. Proses Konversi Agama
Dalam
membicarakan proses terjadinya konversi agama, sebenarnya sukar untuk
menentukan satu garis, atau satu rentetan proses yang akhirnya membawa kepada
keadaan keyakinan yang berlawanan dengan kenyakinannya yang lama. Proses yang
dilalui oleh orang-orang yang mengalami konversi, berbeda antara yang satu
dengan yang lainnya, berlainan sebab yang mendorongnya dan bermacam pula
tingkatnya, ada yang dangkal, sekedar untuk dirinya saja dan ada pula yang
mendalam disertai dengan kegiatan agama yang sangat menonjol sampai kepada
perjuangan mati-matian,ada yang terjadi dalam sekejab mata dan ada pula yang
berangsur-angsur. Namun dapat dikatakan, bahwa tiap-tiap konversi agama itu
melalui proses-proses jiwa sebagai berikut:
1. Masa
tenang pertama, masa tenang sebelum mengalami konversi, dimana segala sikap,
tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2. Masa
ketidaktenangan, konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya,
gelisah, putus asa, tegang, panik dan sebagainya, baik disebabkan oleh
moralnya, kekecewaan atau oleh apapun juga.
3. Peristiwa
konversi itu sendiri setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka
terjadilah peristiwa konversi itu sendiri.
4. Keadaan
tentram dan tenang. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui,
maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa aman damai dihati,
tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan. Tiada kesalahan yang patut disesali,
semuanya telah lewat, segala persoalan menjadi enteng dan terselesaikan.
5. Ekspresi
konversi dalam hidup. Tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan
konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh
jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama. Maka
konversi yang diiringi dengan tindak dan ungkapan-ungkapan konkret dalam
kehidupan sehari-hari, itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya perubahan
keyakinan tersebut.
Sebagai contoh dapat
kita ambil dari sejarah perjuangan pemimpin-pemimpin agama yang terkenal antara
lain seperti: khalifah Umar bin Khattab.
Bagi orang Islam
yang mengenal sejarah Islam, tentunya tidak akan asing baginya riwayat Umar bin
Khattab sebelum dan sesudah masuk Islam, secara ringkas akan kita ikuti Umar,
sebagai seorang yang mengalami konversi agama dalam bentuk yang sangat exstrem.
Perubahannya sangat besar, terjadi dengan tiba-tiba, seolah-olah tidak ada
peroses jiwa, yang mendahuluinya. Fase-fase konversi yang dilalui adalah
sebagai berikut:
Umar adalah seorang bangsawan arab yang terkenal berani,
keras, kasar, pantang kalah dalam perkelahian, pintar bicara, pandai main dan
selalu memperlihatkan kekuatan dan kebengisannya. Setiap orang di kota mekkah
takut kepadanya.
Ketika Nabi Muhammad saw.mulai secara sembunyi-sembunyi
menyiarkan ajaran Islam kepada sahabat-sahabatnya yang terdekat, Umar telah
mendengarnya. Ia ingin menghentikan seruan nabi Muhammad itu, akan tetapi,
tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak diketahuinya.
Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang dari berburu,
Umar bermaksud akan langsung mencari Muhammad dan membunuhnya. Ketika sampai di
kota, orang yang pertama kali bertemu dengan dia adalah suami adiknya, yang
telah masuk Islam. Umar bertanya,”Dimana Muhammad?”matanya tampak berapi-api.
Lalu dijawabnya,”Buat apa Muhammad Tuan cari?”
Umar terkejut mendengar pertanyaan adik iparnya itu,
sambil menjawab,”saya memerlukannya, akan saya bunuh supaya ia berhenti dari
perbuatan mengembangkan keyakinan yang baru itu.”
Iparnya menjawab lagi,”Apakah Tuan ingin membunuh orang
yang baik yang yang berusaha memperbaiki segala kebobrokan ini dan membawa
manusia kepada jalan yang benar?”
Umar marah marah mendengar jawaban adik iparnya,serta
menanyakan,”Apakah engkau juga sudah menjadi pengikut Muhammad?”
Tanpa ragu-ragu dia menjawab,”Ya.”
Umar semakin marah dan langsung menghenus pedang, serta maju
menyerang. Iparnya membela diri dan menghindari pedang Umar sambil
berkata,”Tuan menyerang aku, sedang adik Tuan sendiri(istrinya) juga telah
menjadi pengikut Muhammad.”
Dia merasa terkejut mendengar bahwa adiknya sudah menjadi
pengikut Muhammad pula, iparnya itu ditinggalkannya dan langsung menuju rumah
adiknya. Waktu sampai di pintu, terdengar olehnya adiknya sedang membaca
Al-Qur’an. Pintu diketoknya dengan keras. Begitu pintu terbuka, Umar menanyakan
apakah betul adiknya telah menjadi pengikut Muhammad sambil memukulnya
langsung.
Adiknya menjawab,”Ya, saya ikuti dia, karena ada hal yang
baik yang saya pelajari darinya.”
Kemarahan Umar semakin bertambah mendengar jawaban itu,
sehungga bertambah keras pula pukulannya, sampai adiknya luka-luka dan bajunya
berlumuran darah.
Melihat adiknya berlumuran darah itu, ia berhenti, dan
bertanya:ápa yang tadi kedengaran oleh saya dari luar?”
Kata adiknya,”Ayat Al-Qur’an.”
“Mana dia? Perlihatkan kepadaku!” bentak Umar.
Kata adiknya,”Tidak, engkau kotor, tidak boleh
menyentuhnya, engkau harus mandi dulu sebelum menyentuhnya.”
“Baiklah,”kata Umar, ia
pergi mandi. Setelah itu kembali kepada adiknya.Lalu Umar mengambil lembaran
yang di tulis di atasnya ayat-ayat tadi, lalu di bacanya
mÛ ÇÊÈ !$tB $uZø9tRr& y7øn=tã tb#uäöà)ø9$# #s+ô±tFÏ9 ÇËÈ wÎ) ZotÅ2õs? `yJÏj9 4Óy´øs ÇÌÈ WxÍ\s? ô`£JÏiB t,n=y{ uÚöF{$# ÏNºuq»uK¡¡9$#ur n?ãèø9$# ÇÍÈ
1. Thaahaa
2.
Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu mendapat kesusahan.
3.
Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.
4.
Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
(Al-Qur’an,
Surah Taahaa,1-4)
Setelah dibacanya ayat-ayat itu, dia diam sebentar,
kemudian menanyakan,”Dimana Muhammad?”
Adiknya lalu menunjukkan tempat berkumpulnya Muhammad dan
juga sahabat-sahabatnya, dan Umar pun langsung menuju ke tempat itu.
Begitu pintu terbuka, Umar langsung menuju Muhammad.
Muhammad memegangnya sambil berkata:”wahai Umar, belum datangkah masanya bagimu
untuk beriman?”
Umar menjawab,”Ya, sekarang saya percaya bahwa tiada
Tuhan kecuali Allah dan engkau rasul-Nya.”
Semua sahabat yang hadir terharu mendengar pengakuan Umar
yang tidak disangka-sangka itu, dan mereka serentak membaca Allahu Akbar.
Proses konversi agama pada Umar terjadi dalam sekejab
mata, hanya karena mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang mengubah hatinya.
Contoh yang lain yaitu konvesi agama yang terjadi pada Fudail bin Aiyat
Dalam
membicarakan konversi agama yang terjadi secara tiba-tiba, dan kemudian menjadi
pemimpin dan pembela keyakinan yang baru, sehingga ia pun terkenal sebagai
seorang pemimpin yang istimewa. Kita tidak dapat melewatkan kisah hidup”Fudail
bin Aiyat” yang hidup di zaman Harun Al-Rasyid.
Fudail
pada permulaan hidupnya adalah seorang penjahat, suka mencuri dan merampok.
Setiap malam ia pergi beroperasi. Pada suatu malam ia inginmelakukan
operasinya, akan mencuri pada sebuah rumah yang bertingkat tinggi. Ia memanjat
naik keatas loteng rumah itu, setelah sampai diatas loteng, ia mengintip ke
bawah, terlihat olehnya seorang wanita yang sedang membaca Al-Qur’an dengan
suara yang sayup-sayup sampai. Didengarnya suara tersebut baik-baik, kebetulan
(ayat 16, surat Al-Hadid).
* öNs9r& Èbù't tûïÏ%©#Ï9 (#þqãZtB#uä br& yìt±ørB öNåkæ5qè=è% Ìò2Ï%Î! «!$# $tBur tAttR z`ÏB Èd,ptø:$# wur (#qçRqä3t tûïÏ%©!$%x. (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB ã@ö6s% tA$sÜsù ãNÍkön=tã ßtBF{$# ôM|¡s)sù öNåkæ5qè=è% ( ×ÏWx.ur öNåk÷]ÏiB cqà)Å¡»sù ÇÊÏÈ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, supaya
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah
orang-orang yang fasik.”
Selesai satu ayat itu didengarnya, ia meluncur turun dan
pulang ke rumahnya, rencana jahatnya semula diurungkannya.
Sesudah peristiwa pada malam itu, ia tertarik untuk masuk
Islam dan mempelajari ajaran Islam dengan tekun. Sampai akhirnya ia menjadi
seorang ahli tasawuf yang terkenal di zaman pemerintahan Harun Al-Rasyid itu,
masalah dunia tidak pernah dipikirkannya lagi, harinya dihabiskan untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan.
Jadi
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses
konversi ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung, bangunan
lama dibongkar dan pada tempatyang sama didirikan bangunan baru yang lain sama
sekali dari bangunan sebelumnya. Demikian pula seseorang atau sekelompok yang
mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinya yang
semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya
(agama) maka setelah terjadi konversi agama pada dirinya secara spontan pula
lama ditinggalkan sama sekali.
Sebagai hasil dari pemilihannya terhadap pandangan hidup
itu maka bersedia dan mampu untuk membaktikan diri kepada tuntutan-tuntutan
dari peraturan ada dalam pandangan hidup yang dipilihnya itu berupa ikut
partisipasi secara penuh. Makin kuat keyakinan terhadap kebenaran pandangan
hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yang diberikan.
M.T.L.Penindo
berpendapat, bahwa konversi agama mengandung dua unsur yaitu:
a. Unsur
dari dalam diri (endogenos origin)
yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau sekelompok.
Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk
hancurnya struktur psikologis yang lama dan sering dengan proses tersebut
muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
b. Unsur dari luar (exogenos origin) yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri
atau kelompok,sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang
bersangkutan. Kekuatan yang dating dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya
terhadap kesadaran,mungkin berupa tekanan, sehingga memerlukan penyelesaian
oleh yang bersangkutan.
Kedua unsur tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan
batin untuk aktif berperan memilih penyelesaian yang mapu memberikan ketenagan
batin kepada yang bersangkutan. Jadi, disini terlihat adanya pengaruh motivasi
dari unsure tersebut terhadap batin. Jika pemilihan tersebut sudah serasi
dengan kehendak batin maka akan terciptalah suatu ketenangan. Jika proses
konversi itu diteliti dengan seksama maka baik hal itu terjadi oleh unsur luar
ataupun unsur dalam ataupu individu atau kelompok, akan ditemui persamaan.
D. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya
Konversi Agama
Dalam buku tersebut diuraikan pendapat dari para ahli
yang terlibat dalam displin ilmu, masing-masing mengemukakan pendapat hanya
konversi agama disebabkan fakror yang cenderung didomonasikan oleh lapangan
ilmu yang mereka tekuni. Para ahli agama menyatakan,bahwa yang menjadi faktor
pendorongan terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh
supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama
pada diri seseorang atau sekelompok.
Para
ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama
adalah pengaruh social. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu
terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:
1) Pengaruh
hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama
(kesenian, ilmu pengetahuan ataupun bidang kebudayaan yang lain)
2) Pengaruh
kebiasaan yang rutin.
Pengaruh ini dapat mendorong seseorang
atau kelompok untuk berubah kepercayaan dilakukan secara rutin hingga terbiasa,
misalnya: menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan-pertemuan yang
bersifat keagamaan baik pada lembaga formal, ataupun nonformal.
3) Pengaruh
anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat misalnya: karib, keluarga,
family, dan sebagainya.
4) Pengaruh
pemimpin keagamaan
Hubungan yang baik dengan pemimpin agama
merupakan salah satu faktor pendorong konversi agama.
5) Pengaruh
kumpulan yang berdasarkan hobi.
Perkumpulan
yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong
terjadinya konversi agama.
6) Pengaruh
kekuasaan pemimpin
Yang
dimaksud di sini adalah pengaruh kekusaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Masyarakat
umumnya cenderung menganut agama yang dianut oleh kepala negara atau raja
mereka (Cuius regio ilius est relegio).
Masalah-masalahnya
yang menyangkut terjadinya konversi agama tersebut berdasarkan tinjauan para
psikologi adalah berubah pembebasan diri dari tekanan batin.
Faktor
yang melatarbelakanginya timbul dari dalam diri (intern) dan dari lingkungan
(ekstern)
a. Faktor
Intern, yang ikut mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah:
(1) Kepribadian
(2) Faktor
pembawaan.
b. Faktor
Ekstern (faktor luar diri)
Diantara
faktor luar yang mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah:
1. Faktor
keluarga, keretakan keluarga, ketidakserasian, berlain agama, kesepian,
kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat, dan lainnya.
2. Lingkungan
tempat tinggal
Orang yang merasa terlempar dari
linkungan tempat tinggal atau singkiran dari kehidupan di suatu tempat merasa
dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang
mendambakan ketenagan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan
batinnya hilang.
3. Perubahan
status
Perubahan status, terutama yang
berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama,
misalnya: perceraian, ke luar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan
pekerjaan.kawin dengan orang yang berlainan agama, dan sebagainya.
4. Kemiskinan
Kondisi social ekonomi yang sulit juga
merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama.
Masyarakat awam yang miskin cenderungan untuk memeluk agama yamh menjanjikan
kehiupan dunia yang lebih baiik.Kebutuhan mendesak akan sandang pangan dapat
mempengaruhi.
Para ilmu pendidikan berpendapatan bahwa konversi agama
dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data
dan argumentasi, bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama.
Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga
pendidikan terhadap konversi agama, namun berdirinya sekolah-sekolah yang
bernaung dibawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.
Dalam
uraian William James berhasil meneliti pengalaman berbagai tokoh yang mengalami
konfersi agama menyimpulkan sebagai berikut:
1.
Konversi agama terjadi karena suatu
tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinyua
muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
2.
Konversi agama dapat terjadi oleh karena
suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses)
Berdasaran
gejala tersebut maka konversi agama dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
1.
Tipe volitional (perubahan bertahap),
konversi agama tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit, sehingga
menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang
demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang inggin
menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.
2.
Tipe self-surrender (perubahan drastic),
konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang
tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendirianya terhadap
suatu agama yang dianutnya. Perubahan ini pun dapat terjadi dari kondisi yang
tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama kemudian
menjadi percaya dan sebagainya. Pada konversi tipe kedua ini Wiliam James mengakui
adanya pengaruh petunjuk dari yang maha kuasa terhadap seseorang, karena gejala
konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga ia menerima
kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya. Jadi, ada semacam petunjuk
(hidayah) dari Tuhan.
KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konversi
agama adalah berubahnya agama seseorang ke agama lain, yang disebabkan dari
berbagai faktor, faktor intern (dari dalam diri) kepribadian faktor pembawaan.
Secara pisikologi tipe kepribadian tertentu akan
mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang, dan faktor pembawaan kondisi yang dibawa
berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama.
Jika faktor dari ekstern (dari luar diri), seperti :
Faktor keluarga, keterangan keluarga, ketidak serasian,
berlainan agama menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin, sehingga
terjadi konversi agama. Faktor lingkungan tempat tinggal,orang yang merasa
tersinggir dari tempat tinggalnya ia akan merasa dirinya hidup sendiri dan
mencari tempat bergantung dari kegelisahan hatinya agar mendapat ketenangan,
faktor perubahan setatus mendadak, faktor kemiskinan seperti kondisi pengaruh social
ekonomi yang sulit juga meruakansalah satu factor yang mendorong terjadinya
konversi agama, Jadi banyak hal yang dapat mempengaruhi seseorang untuk
melakukan konversi agama.
DAFTAR
PUSTAKA
-Jalaludin, pisikologi Agama :
PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, cet 6: 2002
-Jalaludin, psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2010,
- Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama,Jakarta:Rajawali,1992,
-Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,Cet.ke-17, Bulan
Bintang:Jakarta, 2010