PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
“Perkembangan Kognitif Remaja dan Dewasa”
Dosen Pengampu:
Zusy Aryanti, M.A.
Disusun Oleh:
Muji Rahayu Tri Kinasih
Prodi
: Pendidikan Agama Islam
Kelas
: A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
JURAI SIWO METRO
2013
Pembahasan
A.
Perkembangan
Kognitif Remaja
Perkembangan
kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar,
berpikir, dan bahasa.
Masa
remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan
menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya. Hal ini adalah
karena selama periode remaja ini, proses pertumbuhan otak mencapai
kesempurnaan. Sistem saraf yang berfungsi memperoses informasi berkembang
dengan cepat. Di samping itu, pada masa remaja ini juga terjadi reorganisasi
lingkaran saraf prontal lobe (belahan
otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe ini berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi,
seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil
keputusan.[1]
Perkembangan
prontal lobe tersebut sangat
berpengaruh terhadap kemampuan kognitif remaja, sehingga mereka mengembangkan
kemampuan penalaran yang memberinya suatu tingkat pertimbangan moral dan
kesadaran sosial yang baru.
1.
Perkembangan
Kognitif Menurut Piaget
Menurut
Piaget, seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku
adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif
membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak
langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja telah
mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting disbanding ide
lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja
mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah
cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.[2]
Piaget
mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu
interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang
semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Tahap
formal operations adalah suatu tahap
di mana seseorang telah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak
lagi terbatas pada hal-hal yang actual, serta pengalaman yang benar-benar
terjadi.[3]
Ditinjau
dari perspektif teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa remaja telah
mencapai tahap pemikiran operasional formal (formal operational thought) yakni
suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12
tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada
tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis. Pada masa
ini, anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi,
sesuatu yang abstrak.
Di
samping itu, pada tahap ini remaja juga sudah mampu berpikir secara sistematik,
mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan
permasalahan. Sebuah mobil yang tiba-tiba mogok misalnya, bagi anak yang berada
pada tahap konkrit operasional segera diambil kesimpulan bahwa bensinnya habis.
Ia hanya menghubungkan sebab-akibat dalam satu rangkaian saja. Lain halnya
dengan remaja, ia bisa memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil
tesebut mogok, seperti mungkin businya mati, mungkin platinanya atau kemungkinan-kemungkinan
lain yang memberikan dasar bagi pemikirannya.
Dari
teori Piaget tersebut maka dapat kami pahami bahwa karakteristik pemikiran
remaja pada tahap operasional formal ini sudah memiliki kemampuan untuk
berpikir secara abstrak, dapat menalar secara logis, dan menarik kesimpulan
dari informasi yang tersedia.
Dalam
suatu eksperimen yang dilakukan Piaget dan Inhelder (1958), kepada anak-anak
dan remaja diberikan lima tabung yang berisi cairan tanpa warna. Empat tabung
diberi label 1,2,3, dan 4, serta tabung kelima diberi label g. kepada anak-anak diminta untuk
mengombinasikan cairan-cairan tersebut sehingga diperoleh cairan yang berwarna
kuning. Dalam melakukan tugas ini, maka anak-anak tahap pra-operasional akan
mengombinasikan cairan yang satu ke yang lain secara tidak teratur. Anak-anak
pada tahap konkrit operasional akan mengombinasikannya secara lebih teratur dan
mencoba memecahkan persoalan ini melalui trial
and error. Mereka mencoba menuangkan cairan dalam tabung dengan label g ke dalam masing-masing dari keempat
tabung lain, dan setelah itu ia menyerah .[4]
Akan
tetapi, anak tahap formal operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan
membuat perencanaan kegiatan terlebih dahulu dan berusaha mengantisipasi
berbagai macam informasi yang akan diperlukannya untuk masalah tersebut. Oleh
karena itu mereka mencoba semua kemungkinan kombinasi dan secara sistematis
akan menambahkan cairan dalam tabung g ke dalam keempat tabung cairan lain.
Kemudian ia akan mengambil tabung 1 dan mengombinasikannya dengan g, kemudian
dengan tabung 2, kemudian dengan tabung 3, dan dengan tabung 4, serta sering
mencatat tentang apa yang telah mereka coba .
2.
Perkembangan
Pengambilan Keputusan
Pengambilan
keputusan (decision making) merupakan
salah satu bentuk perbuatan berpikir dan hasil dari perbuatan itu disebut
keputusan.
Dalam
hal pengambilan keputusan ini, remaja yang lebih tua teryata lebih kompeten
daripada remaja yang lebih muda, sekaligus lebih kompeten dibandingkan
anak-anak. Dibandingkan dengan anak-anak, remaja yang lebih muda cenderung
menghasilkan pilihan-pilihan, menguji situasi dari berbagai perspektif,
mengantisipasi akibat dari keputusan-keputusan, dan mempertimbangkan
kredibilitas sumber-sumber. Akan tetapi apabila dibandingkan dengan remaja yang
lebih tua, remaja yang lebih muda memiliki kemampuan yang kurang dalam
keterampilan pengambilan keputusan.
Meskipun
demikian, keterampilan pengambilan keputusan oleh remaja yang lebih tua
seringkali jauh dari sempurna, dan kemampuan untuk mengambil keputusan tidak
menjamin bahwa keputusan semacam itu akan dibuat dalam kehidupan sehari-hari,
di mana luasnya pengalaman sering memainkan peran yang sangat penting. Untuk
itu, remaja perlu memiliki lebih banyak peluang untuk mempraktekkan dan
mendiskusikan pengambilan keputusan yang realistis.
Tidak
jarang remaja terpaksa mengambil keputusan-keputusan yang salah karena
dipengaruhi oleh orientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalannya untuk
memberi remaja pilihan-pilihan yang memadai. Misalnya, keputusan seorang remaja
yang tinggal di daerah minus di pusat kota yang terlibat dalam perdagangan
obat-obatan terlarang walaupun beresiko tinggi mungkin bukan akibat dari
kegagalan remaja untuk mempertimbangkan semua informasi yang relevan, tetapi
mungkin merupakan hasil pemikiran yang mengenai hal untung-rugi dalam
situasi-situasi yang menekan, yang menawarkan pilihan-pilihan yang terbatas
atau tidak ada alternatif lain.
3.
Perkembangan
Orientasi Masa Depan
Orientasi
masa depan merupakan salah satu fenomena perkembangan kognitif yang terjai pada
masa remaja. Sebagai individu yang sedang mengalami proses peralihan dari masa
anak-anak mencapai kedewasaan, remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang
mengarah pada persiapannya memenuhi tuntutan dan harapan peran sebagai orang
dewasa. Oleh sebab itu sebagaimana dikemukakan oleh Elizabeth B. Hurlock
(1981), remaja mulai memikirkan tentang masa depan mereka secara
sungguh-sungguh. Remaja mulai memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai
lapangan kehidupan yang akan dijalaninya sebagai manusia yang dewasa di masa
mendatang. Di antara lapangan kehidupan di masa depan yang banyak mendapat
perhatian remaja adala lapangan pendidikan, di samping dunia kerja dan hidup
berumah tangga.
Menurut
G. trosmmsdorff (1983), orientasi masa
depan merupakan fenomena kognitif motivasional yang kompleks, yakni antisipasi
dan evaluasi tentang diri di masa depan dalam interaksinya dengan lingkungan.
Sedangkan menurut Nurmi (1991), orientasi masa depan berkaitan erat dengan
harapan, tujuan, standar, rencana, dan strategi pencapaian tujuan di masa yang
akan datang.
Sebagai
suatu fenomena kognitif-motivasional yang kompleks, orientasi masa depan
berkaitan erat dengan skema kognitif, yaitu suatu organisasi perceptual dari pengalaman masa lalu
beserta kaitannya dengan pengalaman masa kini dan di masa yang akan datang.
Menurut
Nurmi (1991), skema kognitif tersebut berinteraksi dengan tiga tahap proses
pembentukan orientasi masa depan, yaitu: (1) motivation (motivasi); (2) planning
(perencanaan); dan (3) evaluation
(evaluasi).
Tahap
motivational. Tahap motivasional
merupakan tahap awal pembentukan orientasi masa depan remaja. Tahap ini
mencakup motif, minat, dan tujuan yang berkaitan dengan orientasi masa depan.
Tahap
planning. Perencanaan merupakan tahap
kedua proses pembentukan orientasi masa depan individu, yaitu bagaimana remaja
membuat perencanaan tentang perwujudan minat dan tujuan mereka. Menurut Nurmi
(1989), perencanaan dicirikan sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga
subtahap, yaitu: pertama, penentuan
subtujuan. Kedua, penyusunan rencana.
Ketiga, melaksanakan rencana dan
strategi yang telah disusun.
Tahap
evaluation. Evaluasi merupakan tahap
akhir dari peoses pembentukan orientasi
masa depan. Dalam proses evaluasi ini, konsep diri memainkan peranan yang
penting, terutama dalam mengevaluasi kesempatan yang ada untuk mewujudkan tujuan
dan rencana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki individu.
Meskipun
orientasi masa depan merupakan tugas perkembangan yang harus dihadapi pada masa
remaja dan dewasa awal, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pengalaman dan
pengetahuan remaja tentang kehidupan di masa mendatang sangat terbatas. Untuk
itu remaja sangat membutuhkan bimbingan
dan dukungan dari berbagai pihak, terutama orang tua.
Penelitian
Trommsdoff (1983) telah menunjukkan betapa dukungan dan interaksi sosial yang
terbina dalam keluarga akan memberikan pengaruh yang sangat penting bagi
pembentukan orientasi masa depan remaja,terutama dalam menumbuhkan sikap
optimis dalam memandang masa depannya.[5]
4.
Perkembangan
Kognisi Sosial
Menurut
Dacey & Kenny (1997), yang dimaksud dengan kognisi sosial adalah kemampuan
untuk berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal,
yang berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman, serta berguna untuk
memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka.
Salah
satu bagian penting dari perubahan perkembangan aspek kognisi sosial remaja ini
adalah apa yang diistilahkan oleh psikolog David Elkind dengan egosentrisme
yakni kecenderungan remaja untuk menerima dunia (dan dirinya sendiri) dari
perspektifnya mereka sendiri. Dalam hal ini remaja mulai mengembangkan suatu
gaya pemikiran egosentrisme, di mana mereka lebih memikirkan tentang dirinya
sendiri dan seolah-olah memandang dirinya dari atas. Remaja mulai berpikir dan
menginterpretasikan kepribadian dengan cara sebagaimana yang dilakukan oleh
para ahli teori kepribadian berpikir dan menginterpretasikan kepribadian, dan
memantau dunia sosial mereka dengan cara-cara yang unik.
Menurut
David Elkind (1976), egosentrisme remaja dapat dikelompokkan dalam dua bentuk
pemikiran sosial-penonton khayalan dan dongeng pribadi. Penonton khayalan (imaginary audience) berarti keyakinan
remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya ia
memperhatikan dirinya sendiri. Dongeng pribadi ( the personal fable) ialah bagian dari egosentrisme remaja yang
meliputi perasaan unik seorang anak remaja. Perasaan unik pribadi remaja
menjadikan mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat memahami bagaimana isi
hati mereka yang sesungguhnya.
5.
Perkembangan
Penalaran Moral
moral
merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman
menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis, dan
menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi.
Sesuai
dengan tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg, tingkat penalaran moral
remaja berada pada tahap konvensional. Hal ini adalah karena dibandingkan
dengan anak-anak, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang. Mereka sudah
mulai mengenal konsep-konsep moralitas seperti kejujuran,keadilan, kesopanan,
kedisiplinan dan sebagainya. Walaupun anak remaja tidak selalu mengikuti
prinsip-prinsip moralitas mereka sendiri, namun riset menyatakan bahwa
prinsip-prinsip tersebut menggambarkan keyakinan yang sebenarnya dari pemikiran
moral konvensional.
6.
Perkembangan
Pemahaman tentang Agama
Bagi
remaja, agama juga memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan,
sebagaimana dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan
sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah
lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah lauku dan memberikan penjelasan
mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Agama memberikan
perlindungan rasa aman,terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi
dirinya.
Dibandingkan
dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan agama remaja telah mengalami
perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal anak-anak ketika baru
memiliki kemampuan berfikir simbolik tuhan dibayangkan sebagai person yang
berada di awan,maka pada masa remaja mereka mungkin berusaha mencari sebuah
konsep yang lebih mendalam tentang tuhan dan eksistensi. Perkembangan pemahaman
remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.
Dalam
suatu studi yang dilakukan oleh Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman
agama anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif
piaget, ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agam remaja berada pada tahap 3.
Yaitu formal operational religious
thought, dimana remaja memperlihatkan pemahaman agama yang lebih abstrak
dan hipotesis.
Perkembangan
Masa Dewasa
1.
Perkembangan
pemikiran postformal
Gisela
Labouvie-Vief, (1986) menyatakan bahwa pemikiran dewasa muda menunjukkan suatu
perubahan yang signifikan. Ia percaya bahwa masyarakat kita yang kompleks
memiliki pertimbangan –pertimbangan yang praktis bahkan mengubah bentuk logika
kaum muda yang idealis. Karena itu, pemikiran orang dewasa muda menjadi lebih
konkrit dan pragmatis, sesuatu yang dikata kan oleh Labouviu-Vief sebagai tanda
kedewasaan.
Dengan
demikian, kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa. Akan tetapi,
bagaimana pun tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa tersebut yang
mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan kadang-kadang beberapa kemampuan
kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambaha usia. Meskipun
demikian, sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran ketrampilan kognitif yang terjadi
terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian
pelatihan. Misalnya, penelitian K.Warner Schaie dan Sherry Willis terhadap
lebih dari 4.000 orang dewasa, yang kebanyakan berusia lanjut,menunjukikan
bahwa penggunaan pelatihan ketrampila kognitif yang bersifat individual telah
berhasil meningkatkan orientasi ruang dan ketrampilan-ketrampilan penalaran
dari 2/3 orang-orang dewasa tersebut. Hamper 40% dari meraka yang kemampuannya
menurun,dapat kembali ditingkatkan hingga mencapai tingkat yang mereka capai 14
tahun sebelumnya.
2.
Perkembangan
memori
Lebih
dari itu, ketika orang tua memperlihatkan kemunduran memori, kemunduran
tersebut pun cenderung sebatas pada keterbatasan tipe-tipe memori tertentu.
Misalnya, kemunduran cenderung terjadi karena keterbatasan memori episodik (episodic memories) memori yang
berhubungan dengan pengalaman-pengalaman tertentu di sekitar kehidupan kita.
Sementara tipe-tipe memori lain, seperti memori simantik (semantic memories) memori yang berhubungan dengan pengetahuan dan
fakta-fakta umum, dan memori implisit (implicit
memories) memori bawah sadar kita secara umum tidak mengalami kemunduran
karena pengaruh ketuaan.
Jadi,
kemerosotan fungsi kogitif pada masa tua,pada umumnya merupakan sesuatu yang tidak
dapat dielakkan,karena disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penyakt
kekacauan otak (Alzheimer)atau karena
kecemasan dan depresi. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa keterampilan
kognitif tidak bisa dipertahan kan dan ditingkatkan. Oleh karena itu,orang tua
sebenarnya sangat membutuhkan suatu lingkungan perangsang dalam rangka mengasah
dan memelihara keterampilan-keterampilan kognitif mereka serta mengantisipasi
terjadi kepikunan.
[1]
Desmita, Psikologi Perkembangan,(Bandung:Remaja
Rosdakarya,2010), h.194
[2]
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,
(Jakarta:Kencana,2011), h.231
[3]
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,
(Jakarta:Kencana,2011), h.232
[4]
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta
Didik, (Bandung:Rosdakarya,2009), h.108
[5]
Desmita, Psikologi Perkembangan,(Bandung:Remaja
Rosdakarya,2010), h.204
Tidak ada komentar:
Posting Komentar